Tampilkan postingan dengan label Cerita - Curhat dan Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita - Curhat dan Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2009

Jernihkan Hati, Lihat dengan Pikiran yang Bersih

Pagi ini, baru saja saya membuka dua blog yang bikin hati panas.

Blog yang lagi-lagi berisi provokasi dan kebencian.

Sebagai orang Indonesia yang punya nasionalisme, tentu saja kita bisa dengan mudah terprovokasi bila membaca blog semacam ini.

Namun saya harap, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi tulisan semacam ini.

Evaluasi diri...Apakah kita seperti yang telah mereka sebutkan.

Kalau iya...perbaiki, jika tidak...semoga Allah menyadarkan mereka.

Terlepas dari itu, saya sebagai pribadi tersakiti dan sedikit terprovokasi...

Saya menyesalkan adanya tulisan seperti ini.

Clik here to see
Clik here to see

Apapun yang yang mereka tulis, apapun yang mereka katakan, apapun yang terjadi, Jernihkan Hati, Lihat dengan Pikiran yang Bersih... Karena hanya dengan itulah kita bisa menyelesaikan semuanya dengan tersenyum.

Rabu, 31 Desember 2008

Selamat Tahun baru 1430 H dan 2009 M

Sekarang jam menunjukkan Pukul 23.15 WIB. Kurang lebih empat puluh lima menit lagi tahun yang baru akan di mulai. Ada banyak cerita di tahun lama, yang baik maupun yang buruk...Semoga tahun depan menjadi tahun yang revolusioner. Perubahan yang tentu saja kearah yang lebih baik.

Selamat Tahun baru...

Selasa, 30 Desember 2008

Blogwalking

Apa itu Blogwalking? Sepengetahuanku sih blogwalking adalah aktivitas kita berkunjung dari satu blog ke blog yang lainnya yang dimaksudkan untuk memperoleh informasi, menjalin networking, iseng karena gak ada kerjaan, ataupun dengan maksud lainnya. Ternyata seru juga ya kegiatan blogwalking. Jadi tau isi kepala teman-temanku. Mulai dari pengalaman travelling mereka, curhat, cerpen, puisi, pengalaman memasak mereka (bagi yang perempuan) sampai yang gak penting seperti copy then paste lirik lagu dan di masukin di blog mereka sekedar buat menuh2in isi blog atau mengungkapkan isi hati mereka lewat lagu yang ada.


Ada beberapa blog yang sering kukunjungi, sebabnya karena faktor pertemanan atau karena isinya emang bagus. Blognya Mas Wipy. Kebanyakan sih pengalaman pribadi, tapi lumayan seru juga terutama kalo ada yang menyangkut yang masalah nikah, he3… (tapi sekarang Mas Wipy udah nikah). Blognya Nies juga seru. Karena Nies orang yang memperkenalkan blog kepadaku. Btw,kalau aku perempuan blognya Nies lumayan ok buat ngeliat resep makanan. Blognya Miftah atau eramuslim kalau pengen tau lebih banyak tentang masalah agama. Blognya Marnie, secara dia emang penulis handal dan dulunya pendiri majalah sekolah. Blognya Henderi, Presiden BEM STAN dan sohib kentalku. Blognya Mahbub, Jenong, Linda, dan teman teman yang lain…sekedar pengen tau kabar mereka sekarang.Blognya Public Figure kayak Dian Sastro, Wulan Guritno, Adhitya Mulya ataupun Ninit Yunita. Menurutku blognya lumayan bagus buat diliat. Selain artis juga penuh akan informasi, terutama blognya Adhitya Mulya.


Blogwalking sebenernya kegiatan menarik yang terkadang bisa nambah-nambah informasi kita tentang banyak hal. Bagaimana? Anda tertarik? So, do it now or never…


My terrible Experience


Pengalaman adalah guru yang paling berharga, agaknya pengalaman yang kudapatkan kemaran merupakan pengalaman yang sedikit mengerikan namun berharga. Sebuah kecelakaan yang jikalau tidak mendapat perlindungan dari Allah tentu akan berakibat lebih fatal.


Ceritanya dimulai ketika aku dalam perjalanan ketempat Omku yang berdomisili di Cilincing, Jakarta Utara. Cuaca agak mendung dan keadaan jalan disekitar Jampea dan Cilincing Nampak basah dan tergenang bekas hujan semalam. Keadaan di perparah oleh kemacetan truk kontainer yang baru saja keluar dari Pelabuhan Tanjung Priok. Hari ini, hari Selasa, dan hari Jumat adalah hari dimana bongkar muat terjadi dan jadwal kedatangan kapal di pelabuhan ini. Karena banyaknya kontainer yang keluar, kemacetan pun tak terhindarkan.


Kala itu aku sedang memacu sepeda motorku didepan penyulingan oli Pertamina dengan kecepatan sedang, 30-50 km/jam. Kemacetan menyebabkan aku tidak bisa memacu lebih kecepatan sepeda motorku. Sebuah truk kontainer bergerak pelan disebelah kananku. Karena kondisi lelah (perjalanan Bintaro-Cilincing yang memakan waktu 1,5-2 jam dengan kecepatan sedang) dan didorong oleh rasa ingin cepat sampai, aku berusaha untuk menyalip truk tersebut dari sebelah kiri. Aku tidak menyadari bahwa jalanan yang basah dan adanya genangan oli membuat jalanan amat licin dan aku mulai kehilangan kendali atas motor yang sedang kukendarai. Implikasinya aku terjatuh dan terlempar sekitar setengah meter dari tempat jatuhnya motorku. Beruntung bagiku truk disebelah kananku tersebut berhasil mengerem tepat pada waktunya. Jika tidak aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi…




Yang patut disyukurui adalah aku memakai peralatan berkendara yang lumayan lengkap mulai dari helm full face sampai, sarung tangan dan jeans yang lumayan tebal sehingga aku tidak mengalami luka yang serius dan hanya sedikit lecet di bagian kaki. So, always makes safety ridding as your requirement when you ride motorcycle… :)


(Jakarta, 23 Desember 2008)

Minggu, 21 Desember 2008

Selamat Menempuh Hidup Baru

Bulan November s.d Januari ini bisa disebut sebagai bulan-bulan Pernikahan. Banyak sekali temen-temenku yang melangsungkan pernikahan pada bulan-bulan ini. Senin itu, UAS di DIV baru saja berakhir, bukan berita tentang nilai yang didapat tetapi berita tentang pernikahan yang datang silih berganti. Tercatat ada empat temanku di DIV yang akan melangsungkan pernikahan pada bulan Desember dan Januari, mulai dari Ihsan, Aris, Arima sampai dengan temen baikku sendiri yang akan segera menikah pada 11 Januari 2008 nanti yaitu Niswatil Mouna atau biasa dipanggil Nies. Gak nyangka kalian akan segera nikah…seperempat abad? kalau dipikir-pikir merupakan usia yang menurutku sangat wajar untuk melangsungkan pernikahan.

Itu baru temen kuliah, gimana dengan temen SMU dulu? Aku terpaksa pulang lebih cepat walau masih memiliki banyak urusan di kampus karena satu lagi temen baikku akan menikah juga…Echa. Hari sabtu tanggal 29 November aku pulang lebih awal untuk menghadiri pernikahan temen baikku yang akan dilangsungkan keesokan harinya. Paginya Echa menikah dan malemnya Cipta, 2 kali dalam satu waktu dan satu tempat yang sama yaitu di gedung Pusri. Lucu juga ya kalo dipikir-pikir. Bulan Januari nanti masih ada dua temanku lagi yang insya Allah akan segera melangsungkan pernikahan yaitu Richad dan Marisa-bejo :)

Menikah : Linda Setiawati & Sumantri Kurniawan Risandriya. Akad : Minggu, 14 Desember 2008 jam 08.00 di Situbondo. Mohon doa restu rekan sekalian. Jazakallah. SMS yang baru saja kuterima pagi tadi. Mbak Linda akan segera menikah… Selamat ya Mbak! Maaf Tomi gak bisa hadir karena tanggal 14 Tomi masih ada di Palembang. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah wa Rahmah. Seneng sekali mendengar berita gembira ini.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir (Ar-Rum : 21)… Selamat menempuh hidup baru buat teman-temanku, semoga dapat menjadi keluarga yang SaMaRa. Selamat memulai perjalanan yang baru bagi kalian semua.

(Btw, maaf bagi yang namanya belum disebutkan karena mungkin Tomi belum menerima undangannya atau mungkin karena kealphaan Tomi)

(Palembang, 12 Desember 2008)

Minggu, 28 September 2008

Segelas Air Putih



Jam berapa Nih? Yup waktu sudah menunnjukkan pukul 22.22 WIB. Kepalaku masih saja terasa berat. Maklum saja, migrainku kambuh lagi neh. Sms dari HPku terus saja berdering… mulai dari jarkom, sampe temen yang sekedar mau smsan dan membicarakan segala hal dari A-Z. Karena aku butuh menumpahkan sesuatu agar kepalaku gak berat, makanya aku mencoba buat nulis. Apa aja yang penting nulis.


Kembali aku teringat salah satu kisah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang rela mengorbankan harta terakhirnya berupa kambing untuk dipotong hanya untuk menjamu tamu yang datang kerumahnya. Bagaimana dengan kita sekarang?


Segelas air putih…


Pernah aku datang kesalah satu rumah seorang sahabatku. Mungkin karena dia merasa aku sudah terlalu dekat dengannya (aku mencoba untuk berprasangka baik). Dia sampai-sampai lupa untuk menghormati tamu. Aku hanya disuruh duduk, menunggu, dan pulang tanpa menyuguhkan suatu apapun. Sebenarnya pembantunya sudah menyuguhkan segelas “cup aqua” (sory nyebut merek). Tapi ia sama sekali tidak mempersilahkanku untuk minum dan malah cuek. Aku tidak minta Sirup, air es, Kue, makan siang, atau apapun itu. Aku hanya ingin sebuah penghormatan seperti yang dulu dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW. Caranya? cukup dengan segelas air putih. Semahal itukah segelas air putih? Atau ia malu karena tidak mempunyai apa-apa selain segelas air putih. Kurasa tidak! Apakah ini faktor budaya? Setahuku budaya Timur terutama Indonesia sangat menghormati tamu.


Aku ingat sekali ketika kedua orang tuaku berpesan bahwa kita harus selalu menghormati tamu. Ayahku selalu marah kepadaku ketika ada temanku yang datang dan aku hanya menyuguhkan segelas air putih dingin. Dia selalu menyuruhku untuk membuat teh, kopi, membeli makanan kecil di warung “Bukde Tjepuk”, intinya aku harus menghormati siapa saja yang datang kerumahku tidak pandang siapapun yang datang.


Lalu dimanakan falsafah segelas air putih itu?


Pukul 00.12 WIB…fiuh,aku ternyata ketiduran didepan komputer. Kepalaku sudah agak lebih ringan, tapi aku menjadi susah untuk tidur kembali. Aku butuh segelas air putih untuk menghilangkan dahagaku ini. Tidak bermaksud untuk apapun, hanya mencoba untuk menulis. Jikalau ini dianggap suatau penghinaan aku minta maaf.


Sabtu, 27 September 2008

He is The Man, Isn't He?

Seorang temen semalem bercerita bahwa ia akan segera menikah dalam beberapa bulan lagi. Tetapi gawatnya ia ragu. Ragu apakah “dia” ,calon suaminya, adalah pria yang tepat baginya? Ditambah lagi, beberapa hari terakhir ini, ada seorang pria lain yang mendekatinya. Seorang pria yang selama ini menjadi idaman keluarganya. Seorang pria yang mapan dalam hal materi. Beda dengan yang pertama yang bahkan harus kelaparan demi untuk membahagiakan dirinya.


Singkat kata aku berbincang dengan dia selama lebih kurang 41 menit, sebuah percakapan yang menurutku perlu untuk dibagi didalam blog-ku ini. Sebuah cerita yang bisa diambil kesimpulan bahwa keraguan yang timbul disaat-saat kita akan menikah hanyalah merupakan godaan dari syaitan dan merupakan hal yang tidak beralasan. Walau aku bukanlah orang yang berkompeten untuk berbagi mengenai permasalahan ini (karena aku belum menikah), namun setidaknya ini bisa manjadi sebuah introspeksi setidaknya bagi diriku sendiri.


“Halo Assalamualaikum! Tom, gua butuh untuk ngomong sama kamu setidaknya selama 10 menit. Ini penting”, terdengar suara diseberang sana berbicara denganku ketika aku sedang berada di bis yang sedang dalam perjalanan menuju Palembang.


“Waalaikumsalam! Ok, lagian gua emang lagi gak ada kerjaan. Kenapa emang?”


“Tom, gua ragu dengan si A?”


Aku sempat terdiam sejenak. Aku berfikir bahwa bisa-bisanya ia ragu disaat-saat seperti sekarang. Saat yang seharusnya ia harusnya sudah mantap untuk menuju jenjang penikahannya.


“Kenapa harus ragu? Bukanlah dia yang telah meluluhkan hatimu selama ini? Bukankah dia yang mencintaimu apa adanya? Bukankah dia rela berkorban untukmu sampai-sampai ia kelaparan? Bukankah dia dengan lantangnya menyatakan bahwa dia berani untuk melamarmu? Akan berusaha mencukupi kebutuhan hidup keluarga kalian kelak? Menjadi imam yang akan membawa kalian kelak ke jalan yang diridhoi oleh Allah? Satu hal saja, apa yang membuatmu ragu? Kenapa?”, aku membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memuatnya terdiam sejenak.


Bukan pertama ini saja, aku menjumpai wanita yang ragu dengan pasangan hidupnya. Aku pernah berhadapan sengan wanita yang sedikit goyah dalam menghadapi pernikahannya. Ia sempat ragu bahwa apakah pria yang akan dia nikahi kelak adalah pasangan yang tepat baginya. Sebuah rekor dalam hal “on line”, dia menelponku nyaris selama 5 jam, dan selama itu pula aku harus meyakinkan dia bahwa pria yang akan dia nikahi kelak adalah pria yang tepat baginya. Aku bahkan menyuruhnya untuk sholat dan meminta kepada Allah agar dimantapkan hatinya (even though it's make me hurt). Bukankah sebaiknya semua masalah harus kita serahkan kepada yang diatas pada akhirnya kelak? Manusia boleh sedih, senang, bingung, panik atau apapun itu didalam menghadapi suatu masalah, namun hanya Allah-lah solusi terbaik bagi kita.


Kembali kepermasalahan yang dihadapi temanku ini, aku kemudian mempertegas kembali pertanyaanku,”Kenapa ?”


Dia hanya menjawab dengan satu kata, “Materi,Tom!”


Dia lalu membandingkan antara si A dan si B, singkat cerita perbandingannya begini :

1. Si A, seorang pria pekerja keras, sudah ia kenal lama, rela berkorban apa saja demi dia, dan tentu saja mencintainya apa adanya, tetapi negatif dalam hal materi. Satu hal yang harus kucatat dari sosok A, pengorbanannya itu lho...Bayangkan, misalnya penghasilannya 100, dia rela menyisihkan 80%-nya demi temanku dan masa depannya, 57% buat biaya nikah dan 20 % buat mencicil rumah. Gimana gak luar biasa coba.

2. Si B, seorang yang mapan, positif dalam hal materi dan merupakan laki-laki yang baik tentunya. Kelemahannya, dia baru saja di kenal.

3. Kalau soal agama, dua-duanya tidak perlu lagi dipertanyakan lagi.


Kalau menurutku, ini sudah jelas-jelas cuma permasalahan satu kata “Materi”. Aku kurang tau sepenting apakah materi itu bagi temenku itu, tapi yang jelas, si A sudah memenuhi kualifikasi laki-laki yang baik, bertanggung jawab, dan seorang pekerja keras. Cukuplah kriteria untuk menjadi seorang suami dan kepala keluarga yang baik bagi isteri dan anak-anaknya kelak. Aku jadi ingat sebuah surat yang kubaca dari blog temenku. Sebuah surat yang menurutku cukup untuk menggambarkan sosok si A dan sifatnya sebagai seorang “manusia biasa” yang tidaklah sempurna dan tidak pula memiliki materi yang melimpah.


Kepada YTH


Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya


Di tempat


Assalamu’alaikum W. W.


Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.



Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.


Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini.


Amin


Wassalamu’alaikum Wr Wb


“Jadi menurutmu gimana, Tom? Beri aku sedikit pendapat tentang hal ini. Kalau menurutmu apakah aku harus memilih A atau B? Aku bingung, padahal dia akan segera datang kerumahku untuk melamarku. Dan pernikahanku juga tidak akan lama lagi?”, dia kembali terlihat bingung.


“Bayangin, kalau aku memilih B, aku akan lebih nyaman. Kalau jalan tidak kepanasan (dia lalu membandingkan antara motor si A dan Mobil si B) , materi terjamin, dia juga orangnya baik dan agamanya pun bagus. Satu hal lagi, orang tuaku pasti akan lebih memilih si B karena sebenarnya ibuku pernah menentang hubunganku dengan si A. Karena aku ngotot aja, makanya Ibuku mau menerima si A. Aku bener-bener bingung, Tom…Si B pun berani memberikan komitmen yang sama dengan si A. What should I do?”, ia kembali menambahkan.


Sebenarnya dia salah orang kalau menanyakan hal ini kepadaku, tapi aku harus menjawab pertanyaan ini, “Aku gak kompeten kalo menjawab pertanyaanmu ini. Tapi menurutku si A lah yang sebaiknya kau pilih. Si A adalah pria baik, bertanggung jawab, rela berkorban untukmu, dan dia sosok yang telah lama kamu kenal , jadi akan lebih muda untuk beradaptasi dengan dia”, aku sedikit berpendapat menurut sepengetahuanku saja, karena aku merasa aku benar-benar bukanlah orang yang pantas buat menjawab pertanyaannya.


Aku lalu menceritakan tentang suatu kisah beda “Cinta” dan “Pernikahan”. Semakin kita mencari cinta sejati, semakin kita tidak mendapatkannya karena akan selalu ada yang lebih baik dari pasangan kita. Tetapi kalau di tanya soal pernikahan, menikah bukanlah mencari yang lebih dan lebih baik, tetapi mencari seseorang yang cocok, bisa membuat kita nyaman, tampat berbagi, dan menyatukan perbedaan yang ada. Karena menikah bukanlah membuat kita sama dalam segala hal, tetapi membuat perbedaan yang ada pada diri tiap pasangan agar saling melengkapi den bukan malah meneliminasi perbedaan yang ada. Jadi, aku bertanya lagi kepada temenku itu. Akankah ia akan terus dan terus mencari seorang yang lebih baik dari si A. Jika benar begitu, tidaklah beralasan bagi dia untuk meninggalkan si A, kecuali jika ada sifat dari A yang secara prinsip tidak dapat kita terima, seperti contohnya dia ternyata sudah menikah, dan lain-lain. (Aku sok bijak banget kayaknya ya? he3)


Kemudian aku ceritakan pula tentang surat yang kubaca dari salah satu blog temanku diatas. Aku pun menyuruhnya untuk menonton film Cinderella Man jikalau dia sempat. Karena menurutku, berdasarkan ceritanya, sosok si A bisa digambarkan oleh dua hal diatas. Cukuplah surat dan film itu menjadi salah satu pertimbangannya.


“Aku Cuma bisa ngasih masukan segitu”, ujarku, “sisanya kamulah yang berhak untuk mutusinnya dan sebaiknya kamu juga minta pendapat dari orang tuamu dan temenmu yang lain sebagai second opinion. Jadi, bisa jadi bahan pertimbangan yang lebih baik buat kamu.”


“Terakhir, dan yang merupakan pendapat yang terbaik, kamu minta masukan dari ‘yang diatas’,gih! Sholat Istiqarah, berdoa atau apapun bentuknya itu. Yang jelas, Allahlah jalan yang terbaik bagimu. Ok!”, kata-kata penutup dariku sebelum menutup telepon.


“Iya,makasih, Tom. Paling gak, aku udah ada satu masukan”, suaranya masih pelan dan penuh keraguan, “Wassalamualaikum”.


“Waalaikumsalam W. W.”


Kesunyian di bis malam kembali menyelimuti diriku malam itu. Telepon kemudian kututup dan aku mengambil posisi yang nyaman agar bisa tidur sejenak, setidaknya sampai bis mencapai rumah makan Begadang V di Lampung.


* * * * *


Dua hari berselang sebuah sms masuk ke Handphone-ku, “Tom, kemarin si A tau aku ada perasaan dengan si B. Dia nangis dan dia meminta keseriusanku. Kalau aku tidak lagi menyukainya, dia memintaku untuk segera meninggalkannya sekarang. Baru kali itu aku melihat laki-laki menangis dan aku sudah melihat keseriusan dimatanya. Aku sudah bisa memutuskan sekarang.”


(Palembang, 21 September 2008)


Selasa, 29 Juli 2008

Sebuah Perenungan



“wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…An Nuur : 26”.


Sepenggal Ayat Suci Al Quran yang membuatku terhenti dan menatap kebagian tulisan itu agak lama. Peristiwa itu kualami ketika sedang blogwalking dan membaca salah satu tulisan diblognya Mas Wipy, pembawacerita.wordpress.com. Firman Allah yang terasa menusuk kedalam sanubariku.


Apakah aku tergolong dalam laki-laki yang baik itu?


Kembali teringat ketika Pak Pres, Henderi, berkata kepadaku, “Tom, mencari ‘bidadari’ itu ibarat bercermin. Apa yang kau lihat didalam cermin, itulah yang akan kau dapatkan. Kalau kau ingin mendapatkan yang lebih baik, perbaikilah dirimu dulu. Jikalau kau merasa sudah menjadi seseorang yang lebih baik, bercerminlah dan lihatlah dirimu kembali. Apakah kamu sudah menjadi seseorang yang lebih baik seperti yang kau rasakan.”


Apakah aku tergolong dalam laki-laki yang baik itu?


Teringat buku La Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni, Yaitu salah satu bagian tentang Muhasabahlah diri Anda sendiri. Disitu tertulis bahwa Umar bin Khattab pernah berkata “Lakukan muhasabah terhadap diri sendiri, sebelum orang lain melakukannya terhadap diri Anda. Timbanglah (amal perbuatan) dirimu sebelum orang lain menimbangnya. Dan hiaslah diri Anda untuk hari penampilan agung.” Lalu pertanyaannya adalah seberapa sering Anda mengukur berapa banyak kesalahan yang telah Anda lakukan tiap harinya? Apakah Anda pernah berusaha memperbaikinya? Apakah aku pernah melakukan hal ini? Kenyataannya yang ada adalah aku masih jauh dari sempurna.


Tepat pukul 13.54 Handphone CDMA-ku berbunyi. Teman baikku akan segera menikah. Tebak dengan siapa dia akan menikah? Seorang laki-laki baik yang menurutku Worthed for her. Tamatan Pondok pesantren Gontor yang berprofesi sebagai dosen disebuah Universitas Agama terkemuka di Indonesia dan sekarang sedang mengambil S2. Allah itu maha adil, wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya. Senang sekali mendengar berita bahagia dari salah satu teman baikku ini.


Apakah aku tergolong dalam laki-laki yang baik itu?


Jumat, 04 Juli 2008

Akhir dari Matrikulasi



IPK-ku Sayang, IPK-ku Malang



Setiap ada awal, pastilah ada akhir. Gua selalu berpegang pada hal ini. Seperti halnya awal dan akhir, setiap perjumpaan akan selalu diakhiri dengan perpisahan. Gak terasa, sudah delapan bulan menjalani hari-hari dikelas Matrikulasi ini. Ada banyak emosi yang tertanam dikelas ini : sedih, senang, marah, tertawa, menangis, kekeluargaan, gugup, panik, rame, konyol, narsis, dan lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Intinya, baru kali ini di STAN gua jumpain kelas sesolid ini.


Jam di Handphoneku menunjukkan pukul 14.45. Sudah dari pagi aku menantikan Pengumuman IPK yang berarti juga pengumuman kelulusan. Perasaan di dalam hati bercampur baur, ada rasa gugup, deg-degan, plus sedih. Yup, sedih…Gua mengetahui dari Pak Ketua Kelas bahwa ada dua orang dikelasku yang bakalan terkena Drop Out alias DO.


“Tom, kekampus yuk!”, Apri teman satu kos, satu kelas, plus Pak Ketua Kelasku mengajakku untuk segera berangkat ke kampus, “Pengumuman IPK dah keluar tuh”.


“Ok, bentar ya, gua mo ambil jaket dulu”. Cuaca di luar yang panas membuatku harus memakai jaket. Yup Sudah pukul 15.00, tetapi cuaca siang itu terik banget.


Gua segera mengambil kunci motorku dan tancap gas bersama Apri kekampus. Gua merasa denyut jantungku masih saja berdegup tak beraturan. Gua takut IPK-ku tak sesuai dengan harapanku selama ini. Gua tau bahwa gua telah gagal semenjak UAS berakhir, namun gua masih saja berharap ada sedikit keajaiban. Keajaiban yang bisa membuat IPK-ku sedikit lebih baik.


“Anter kedepan gedung P aja Tom”, Apri mengingatkanku agar membelokan motorku menjauhi tempat parkir yang biasa kami pakai untuk menaruh motor dan berjalan melewati portal menuju gedung P yang pada waktu itu terbuka. Gua sengaja Memberhentikan motor tepat di gedung P agar lebih dekat ketempat pengembalian buku perpustakaan. Pada waktu itu, kami membawa satu kardus besar penuh buku selama satu semester yang kami pinjam diperpustakaan kolektif diSTAN. Perlu dicatat disini, Salah satu keunggulan kuliah di STAN adalah kita mendapatkan pinjaman buku literatur untuk setiap mata kuliah selama satu semester penuh. Diakhir semester, tentu saja buku tersebut harus dikembalikan. Namun, terkadang buku-buku tersebut sudah out of date dan jumlahnya tidak mencukupi sehingga kita harus membelinya sendiri atau mencari pinjaman kepada kakak kelas. Namanya gratis ya pasti ada ajalah kekurangannya.


Segera setelah mengantar Apri, aku bergegas mencari tempat parkir motorku dan sesegera mungkin menuju ketempat pengumuman IPK. Fiuh, berjalan lumayan jauh membuatku lumayan capek. Kayaknya aku butuh banyak olahraga agar staminaku gak loyo kayak gini. Yah, minimal jogging 2 kali seminggu. Namanya juga niat, mewujudkannya itu loh yang susahnya minta ampun. Perasaan niat kayak gini udah dari dulu, Cuma realisasinya itu yang susahnya minta ampun. Alhasil, paling Cuma satu kali sebulan melakukannya. Gimana mau sehat nih, he3!


Gua udah berada tepat didepan papan pengumuman IPK. Gua dengan brutalnya sikut kanan dan kiri agar bisa melihat dengan jelas berapa IPK gua. Segera saja gua screening membaca dari bawah nama-nama yang tercantum disana. Yudi, Wahyudianto, dan … Tomi. Gua memberanikan diri melihat kekolom IPK, sambil mencoba mengatur nafas mendadak kerut diwajahku berubah dan sedikit menampakkan ekspresi kekecewaan, yup ternyata keajaiban itu tidak terjadi.


Ada banyak yang terjadi disamping apa yang gua alami diatas. Dan yang paling membuatku sedih adalah kenyataan bahwa ada dua teman sekelasku yang harus meninggalkan perkuliahan D4. Mereka harus angkat koper lebih awal bak acara Akademi Fantasi di Indosiar karena sms yang mereka dapatkan dibawah kuota yang telah ditetapkan. Perkuliahan di STAN emang terbilang kejam dan tanpa kompromi. Tidak boleh ada nilai D, tidak ada semester pendek atau apapun itu untuk memperbaiki IP, dan IPK komulatif harus diatas 2,75. Preasure yang menurut gua memaksa mahasiswanya untuk menjadi seperti robot dan bekerja semaksimal mungkin. Itu sebabnya sebagian mahasiswa STAN itu kaku, seperti gua kali ya.


Balik keteman sekelas gua tadi. Salah satu teman sekelas gua yang terkena DO pada pagi hari sebelum pengumuman IP, baru saja memperoleh rezeki dari Allah. Isterinya baru saja melahirkan anak kedua mereka. Dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Kegembiraan dan kesedihan datang disatu waktu yang berdekatan. Dulu gua pernah berfikir, Mengapa Allah menciptakan Kesedihan, sakit, miskin dan penderitaan? Akhirnya pertanyaanku terjawab sudah. Allah menciptakan kesedihan agar orang bisa merasakan kegembiraan, nikmatnya sehat baru bisa kita rasakan seseungguhnya setelah kita sembuh dari sakit, orang kaya baru bisa merasakan mereka kaya karena ada orang yang lebih miskin dari mereka, dan penderitaan harus kita alami kalau kita mau merasakan kesuksesan. Allah tidak mungkin menurunkan emas begitu saja dari langit, segala sesuatu itu harus kita perjuangkan. Bukankah “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum terkecuali mereka mengubahnya sendiri”. Dan prinsip ini sampai sekarang masih gua pegang, prinsip bahwa hidup adalah perjuangan.


Hari yang panjang ini ditutup dengan berkumpulnya anggota kelas B disudut ruang gedung L. Anak-anak matrikulasi B terlihat menumpuk buku pinjaman disalah satu sudut pelataran gedung tersebut untuk kemudian dikembalikan. Mereka sesekali mengeluarkan celetukan khas kelas dan tertawa renyah. Atika dengan sibuknya mengumpulkan uang sumbangan untuk nikahannya Dino dan kelahiran anak dari Mas Tri. Senangnya yang sudah berkeluarga, ada yang baru nikah dan ada yang baru punya anak (Gua kapan ya? Ada yang mau gak?, he3). Dari raut muka masing-masing anak kelas, ada yang sedih, ada yang gembira, namun juga ada yang hambar tanpa ekspresi. Sulit sekali menyelami apa yang mereka rasakan setelah pengumuman IPK. Walaupun terkadang katanya aku bisa melihat perasaan seseorang dari matanya. “Eyes can’t cheat”.


Jam telah menunjukkan pukul 16.50, sudah sore juga rupanya. Semua buku pinjaman pun telah dikembalikan. Obrolan yang sudah ngelantur kemana-mana itupun harus diakhiri. Yup, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, inilah terakhir kalinya aku bisa melihat anak-anak matrikulasi B berkumpul sebagai suatu kesatuan kelas. Kalaupun nanti berkumpul lagi, situasinya akan beda karena masing-masing telah memiliki kelas yang berbeda. Perlahan tapi pasti, satu dua orang mulai meninggalkan gedung L. Terlihat masih ada temen-temen matrikulasi A yang baru saja akan mengembalikan buku pinjaman mereka. Gua kemudian melangkahkan kaki meninggalkan gedung L bersama Apri, kayaknya aku harus istirahat lebih awal malam ini. Hari ini merupakan hari yang berat bagiku,fiuh…


Semester lalu telah berakhir, dan semester depan menanti didepan mata untuk dijalani. Menatap semester depan tentunya dengan kelas yang berbeda. Tidak ada lagi matrikulasi B, tidak ada lagi penghinaan dari teman satu kosku yang menyatakan bahwa aku belum resmi masuk D4, tidak ada lagi lelucuan khas anak-anak matriks B lagi, tidak ada lagi ibu-ibu arisan Matrikulasi. Semua berganti dengan kelas baru yang semoga sekompak dan serame kelas matrikulasi ini. Semuanya karena : Matrikulasi Telah Berakhir.




Farewell Party Mas Fuad



Sabtu, 5 Juli 2008 mendadak sms dari HPku berbunyi. Sebuah sms jarkom dari Cobain yang menyatakan akan diadakan pertandingan futsal perpisahan dengan Mas Fuad pada hari ini pukul 11.00 WIB. Yah, semacam Farewell party gitu. Seperti yang telah gua sebutkan, bahwa ada dua orang yang terpaksa harus meninggalkan perkuliahan lebih awal dikarenakan faktor IPK yang tidak mencukupi. Salah satunya adalah Mas Fuad ini. Sedih rasanya buat berpisah dengan Mas Fuad. Dia orangnya Pintar, baik, rame, lucu dan yang aku gak nyangka adalah bahwa Mas Fuad memiliki pengetahuan agama Islam yang sangat luas. Mungkin faktor force major, yang sulit buat aku jelaskan disini, yang merupakan sebab kegagalan Mas Fuad di D4 ini.


Balik ke pertandingannya tadi, aku terlebih dulu harus kekampus untuk suatu urusan dan bersama Dany menuju ke Kick Off tempat pertandingan Farewell party dilakukan. Pertandingan telah dimulai, mungkin karena udah males buat ganti baju dan pertandingan akan segera berakhir, aku memutuskan untuk tidak ikut main dan memilih untuk jadi penonton saja. Kulihat anak-anak bermain dengan semangat sekali dan tidak tampak seperti biasanya terlebih-lebih Mas Fuad yang bermain ngotot dan membukukan beberapa gol. Pertandingan kemudian berakhir imbang 11-11. Akhir yang cukup fair kalo menurut saya.


Acara kemudian ditutup dengan sesi pemotretan (dasar banci foto). Karena tidak membawa kamera, saya hanya menggunakan kamera Handphone yang berkekuatan 1,3 Megapiksel (Kasian deh lho). Tapi cukuplah untuk mengabadikan momen yang menurut saya jarang terjadi dan saya harapkan tidak akan pernah terjadi lagi.


Selamat Jalan, Mas Fuad! Semoga kesuksesan menanti di tempat yang baru, doa kami dari anak-anak eks matrikulasi B selalu menemani…!



Aqiqah anak Mas Tri



Sore hari di Plasma, tepatnya pada hari minggu tanggal 6 Juli 2008 pukul 15.00 anak-anak matrikulasi B kembali berkumpul dan menunjukkan kekompakannya. Hari ini ada acara aqiqah putera dari Mas Triyanto di Cengkareng. Jauh bukan? Sedih juga harus lagi-lagi berpisah dengan Mas Tri, salah satu anggota kelas yang terpaksa harus meninggalkan D4 lebih awal selain mas Fuad tadi. Semula pemberangkatan akan dilakukan pada pukul 15.00, namun sembari menunggu Mas Yudi dan waktu Ashar tiba, keberangkatan terpaksa dimundurkan menjadi pukul 15.30. Ada 15 orang yang ikut didalam konvoi 6 motor plus satu mobil tersebut yaitu Apri, Tomi, Mike, Nanang, Mas Henry, Mas Ronny, Cobain, Yeyek, Tejo, Nugroho, Mas Eko, Mas Fuad (penunjuk jalan), dan Mas Yudi beserta Isteri dan anaknya.


Perjalanan dimulai dari plasma menuju arah ceger. Dari gerbang STAN ceger, motor dibelokkan kekiri kearah Tamanmangu terus melesat kearah Jombang Raya. Dengan kecepatan sedang, rombongan konvoi lalu menuju ke Ciledug, neraka kemacetan. Beruntung hari Minggu membuat kemacetan yang terjadi tidak terlalu parah. Dari Ciledug motor berbelok kekiri menuju arah Cikokol, menurut saya medan paling berat adalah perjalanan ketika menuju Cikokol ini. Jalan sempit dengan volume kendaraan yang berlebih memaksa kecepatan motor tidak maksimal dan sering terhenti dititik-titik kemacetan tertentu. Dari simpang Cikokol, kemudian kami berbelok kekanan menuju Cengkareng. Sempat terjadi insiden kecil yang cukup menggelikan disini dimana sang navigator, Mas Fuad, memaksa rombongan untuk menembus jalan satu arah. Pak Polisi pun bereaksi dengan memperingatkan kami, untung saja tidak ditilang. Fiuh… Perjalanan satu jam setengah berakhir disebuah rumah mungil di Cengkareng. Rumah di sebuah komplek tepat didepan pintu belakang Bandara Soekarno Hatta. Dari sini kita bisa dengan jelasnya melihat pesawat berukuran besar yang sedang mendarat. Ada hikmahnya ikut ke tempat Mas Tri ini. Saya jadi tau alternatif jalan ke bandara selain melalui tol. He3!


Acara aqiqah sendiri berjalan dengan lancar. Makan Tengkleng kambing adalah acara terakhir yang kami lakukan ditempat Mas Tri sebelum akhirnya Sholat Maghrib dan bersiap meninggalkan tempat acara aqiqah. Dalam hati, saya sempat berfikir bagaimana beratnya perjuangan Mas Tri ke kampus STAN dari Cengkareng. That’s a far distance, jauh banget. Wajar apabila Mas Tri sempat tidak bersemangat untuk melanjutkan kuliah dan ini menjadi salah satu pemicu kenapa Mas Tri bisa terkena DO. Saya dan teman-teman eks matrikulasi B lagi-lagi hanya bisa berdoa semoga mas Tri mendapatkan kesuksesan di tempat yang baru… Amin.


Motor yang dikendarai oleh Apri pun meluncur menjauhi Cengkareng. Perasaan sedih dan gembira bercampur aduk, mungkin ini yang terbaik bagi Mas Tri.


“Cover me, Aaa Negative, Affirmative!”, nada suara pesan masuk di Handphone-ku. Kubuka isi pesan yang baru saja masuk ditengah kencangnya motor yang dikendarai oleh Apri.


“Loh, kita kan temen Tom. Kamu bilang aku sahabat kamu dari kecil. Jadi, ganggu yang mananya? Ya, udah It’s ok. Aku gak akan ganggu-ganggu kamu lagi. Makasih untuk semuanya.”


Sebuah pesan singkat…Aku baru saja kehilangan seorang sahabat.


Akhir dari Matrikulasi, sebuah penceritaan…!




Minggu, 22 Juni 2008

Sungai Musi Vs Selat Sunda

Sebenarnya gak ada hubungan antara Sungai Musi dengan Selat Sunda, Cuma berhubung dalam dua hari ini gua melihat keduanya dalam selang waktu yang tidak berapa lama, so tak certain aja pengalaman yang terjadi diantara keduanya :


  1. Selat Sunda

Libur telah tiba,saatnya pulang ke Palembang. Waktu pulang pun ditetapkan yaitu pada hari kamis tanggal 19 Juni 2008. Sekarang tinggal memilih mau pulang naek apa? Pilihan perjalanan lalu ditetapkan,yaitu antara naik Pesawat atau lewat jalur darat. Namun ketika menayakan harga tiket pesawat, “Hah 500rb, Gak salah?” Sambil mencoba menghitung berdasarkan logika dan mencoba menelaah “Free Cashflow” yang gua punya sekarang (berhubung gua mahasiswa, hue3). Akhirnya Jalur darat melalui media transportasi Bis Lorena yang gua pilih. Agak gak rela melewatkan waktu 18 Jam yang membosankan di Bis, namun pertimbangan ekonomis harus dilakukan. Secara gua baru beli tas baru, so gua harus nutup defisit anggaran dengan penghematan disektor laen (sok ilmiah neh). Beruntung gua gak sendiri, yup gua ditemeni sahabat baik gua yang udah tak anggap seperti Saudara sendiri, Nies :)


Namun semua itu seakan terbayar ketika menyebrangi Selat Sunda memakai Kapal Feri Rajabasa yang bertolak dari pelabuhan Merak. Timingnya tepat yaitu jam 5 sore,saat matahari mulai akan tenggelam. Pemandangannya menurut gua Extraordinary view. Gua dapat melihat akivitas nelayan memakai kapal kecilnya, kapal-kapal gede yang lagi berlabuh,anak-anak pantai yang terjun bebas dari Kapal Feri yang gua tumpangin, terus yang paling keren Sunset-nya itu lho. Tapi menurut seseorang yang gak boleh disebut namanya :p (kayak Lord Valdemort di Harry Potter aja) “Pemandangannya biasa aja, Tom !” huh, gua jadi sedih, padahal “Your not there,bro...kalo ada dah tak cemplungin di laut tuh, he3!” Dari atas kapal itu,gua dapat ngeliat proses tenggelamnya matahari. Mulai dari tiga perempat, setengah, trus keseluruhan matahari tenggelam di bawah datarnya air laut selat Sunda. Sayang,modal gua Cuma kamera HP yang gak bisa merekam saat-saat itu dengan detil. Waktu Maghrib telah masuk, gua lalu ke Mushola, yaitu bagian paling atas dari kapal. Ketika gua sampai disana, “Masya Allah, pemandangannya ternyata lebih indah.” Gua dapat ngeliat view yang lebih luas, Bahkan dari sini, gua dapat melihat keseluruhan dari bagian kapal. Musholanya juga lumayan bersih, gua jadi betah berlama-lama di Musholanya :)


Akhirnya perjalanan melintasi Selat Sunda selama kurang lebih tiga jam,ditutup dengan dengungan sirine kapal, tanda kapal mulai merapat ke pelabuhan Bakaheuni. Capek gua terbayar deh kalo kayak gini. Tapi? Mikir-mikir lagi kalo mau ke Jakarta naek bis lagi, Tapi liat aja ntar deh. Soalnya pengen nyantai dulu di Palembang, baru mikirin cara buat pulang, hue3…


Senja di Kapal Rajabasa
Foto dulu :)
Senja Lagi, sayang kameranya gak support
Diatas Kapal (Bisa keliatan semua dari sini)

2. Sungai Musi


Sebenarnya awal dari ngeliat Sungai Musi ini adalah proses ketidaksengajaan. Gua tertipu oleh iklan di salah satu satu sudut kota yang menyatakan ada pameran disana. Hari sabtu kemaren, tanggal 21 Juni 2008 bersama Radi,Fahmi dan Nies gua berangkat ke Benteng Kuto Besak (BKB). Alih-alih mau ngeliat pameran, eh ternyata cuma ngeliat Walikota yang lagi meresmikan lomba mancing. Daripada gak dapet apa-apa, akhirnya sisi narsis gua timbul deh, dengan dibantu oleh Nies akhirnya gua foto-foto :)


Gak ada perbedaan yang mencolok dari aktivitas di Sungai Musi yang membelah Palembang menjadi Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari dulu sampai sekarang. Sungai didominasi oleh lalu lalang perahu kecil, baik itu yang mengangkut penumpang atau yang mengangkut barang kebutuhan sehari-hari. Perahu sedang tampak sesekali lewat, perahu patroli angkatan laut pun tampak terlihat siang itu, tetapi tidak terlihat perahu besar yang lalu-lalang siang itu. Mungkin tidak ada aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bombaru, Pertamina atau Pusri yang membuat Kapal dengan skala lebih besar tidak nampak siang itu. Bagi masyarakat setempat disini, sungai adalah denyut nadi perekonomian mereka yang utama. Tidak salah kalau dulu kerajaan Sriwijaya yang berbasis maritim berpusat disini. Bahkan warga setempat menganalogikan bahwa sungai adalah laut. Coba aja tanya kesalah satu penduduk pinggiran sungai Musi saat mengawali aktivitas sehari-hari mereka dipagi hari. “Mau kemana, Pak?” Dengan entengnya mereka akan menjawab, “Mau kelaut.”


Apa aja sih yang bisa dilakuin disini? Banyak kok, kita bisa makan di restoran terapung, foto-foto (bagi yang narsis), nongkrong (tapi kafenya di banyakin ya Pak Walikota), atau bagi yang mau jalan-jalan keliling sungai sampe ke Pulau Kemaro (Pulau ditengah-tengah sungai Musi), disediain berbagai jenis kapal. Mulai dari kapal VIP seharga Rp. 70.000/orang sampai dengan kelas ekonomi dengan melalui media perahu Ketek (sejenis perahu kecil dengan mesin tempel) seharga Rp. 15.000/orang. Jenisnya beragam kok tergantung kocek kita masing-masing.


Pinggiran Sungai Musi sekarang memang telah dijadikan salah satu objek wisata di Palembang. Namun menurut gue, ada banyak kekurangannya. Mungkin ini hanya dari sudut pandang gua sebagai orang awam, namun cukuplah dijadiin referensi buat yang mau kesana. Yang pertama, Faktor keamanan. Kenapa gak sekalian dibangun Polsek disini, biar para penodong dan penjambret pada kabur. Essensi utama dari industri pariwisata adalah keamanan. Gimana mau seneng-seneng kalo mengeluarkan kamera aja kita takut akan di jambret orang. Lalu faktor kedua yang gua sorotin disini yaitu kurangya fasilitas. Sebagai contoh : penerangan di malam hari, fasilitas tempat parkir yang masih semerawut, fasilitas permainan yang masih minim, tempat penjualan souvenir yang susah dicari (bisa dijadiin peluang bisnis nih), intinya orang gak betah buat berlama-lama disini (kecuali yang pacaran,hue3). Ketiga, Kurangnya event-event yang disediain disini, baik yang berskala lokal, nasional, maupun internasional, terus promosinya juga masih kurang (kurang dana atau apa? Kok setengah-setengah). Trus yang Keempat, Palembang kok panas ya, he…he…he (yang terakhir ini gak penting buat dicatet).


Karena waktu yang terbatas dan temen-temen gak ada yang mau diajakin naik kapal keliling Sungai Musi, akhirnya kami memutuskan untuk Check out. Tiba-tiba Miss Traktir melontarkan suatu ide untuk makan siang bareng, tentunya dengan meminta traktir dari salah satu dari kami yang ada disana pada waktu itu. Dan Radi yang menjadi orang yang paling beruntung siang itu, he3. Makasih,Chun buat traktirannya siang itu. Perjalanan ditutup dengan makan-makan di Es Mamat di Lapangan Hatta (Nih tempat pernah masuk wisata kulinernya Pak Bondan lho…).


Fahmi,Radi n Me
Es Mamat
Di depan Ampera

Ampera n Me

Selat Sunda, Sungai Musi dan Suatu perjalanan singkat. Itulah yang bisa gua simpulkan dari posting yang gua bikin hari ini.

(All pictures are taken by My friend, Nies)


Sabtu, 21 Juni 2008

Karena Kami Adalah “The Matriks”




Foto-Foto di Situgintung



Apri dan Doan plus Tejo (Hadiah Doorprize)


Cobain (menang lagi) Puput (mewakili mas Otto), Wayan dan Mas Eko




Mas Imam, Atika Cobain dan Mike



Dikampus


UAS baru aja selesai beberapa hari yang lalu.
Tapi yang gua heran, Euforia yang dirasakan temen-temen di kelas Matrikulasi ini seolah-olah mereka telah menyelesaian Thesis S2, hue3!
Kalo dipikir-pikir lucu juga ya.


Peristiwa ini dimulai dengan Foto-foto dikelas setelah ujian hari terakhir.
Gak cukup itu aja, foto-foto kemudian dilanjutkan ke Halaman Kampus dan sekitarnya.
Berbagai pose andalan mulai dikeluarkan.
Mulai dari senyum yang bikin mata sepet, Loncat-loncat kayak kutu yang digoreng, jungkir balik kesana kemari seolah-olah mereka adalah pemain sepakbola ternama dengan gaji jutaan dollar,


Cukupkah sampe disitu?
Tidak juga, Acara dilanjutkan dengan makan-makan dirumah makan Situgintung di daerah Ciputat. Acara didesign seunik mungkin, mulai dari nyanyi,pemutaran pilem kelas, games, doorprize dan award yang diberikan pada anggota kelas “teraneh”
Aneh disini bisa jadi positif ataupun negatif.

Gua sebutin aja kriterianya :

  1. Ada yang terlambat (yang suka telat dateng) : Pemenangnya Mas Otto.
  2. Ada yang Tertidur (yang suka tidur) : The Winners goes to Mas Imam
  3. Ternarsis (Suka senyum-senyum sendiri di kelas) : Cobain paling pas buat yang ini.
  4. Then Tercablak (Paling suka ceplas-ceplos dikelas) : Tebak siapa? Yup bener Atika.
  5. Siapa yang mau jadi Teraniaya? (yang suka diceng-in di kelas) : Kasihan deh kamu Mike
  6. Ada yang Terunik (Gak tau yang dilihat dari segi mananya) : Dan Cobain Menang lagi deh. Nih anak emang aneh.
  7. The last but not Least adalah kategori Terbaik (Best Student) : Wayan-lah yang paling cocok. Udah pinter di kelas, Olahraga, maen Musik, plus Pinter Pacaran lagi (kata Cobain),he3


Kategori-kategori diatas di Tambah lagi dengan kategori “Live Time Achievement Awards” yang jatuh pada pak Ketua Kelas, Saudara “Apriyanto Setiawan”. Selamat buat pak ketua,he3. Emang ada yang bilang bahwa acara penghargaan semacam ini sudah biasa dilakuin. Tetapi menurutku ini menjadi tidak wajar karena nih kelas belum akan pisah. Paling-Paling tanggal 30 Juni nanti udah ketemu dan belajar seperti biasanya lagi.


Jadi, buat apa acara perpisahan ini? Ada yang bilang, ini perayaan setelah UAS bukan perpisahan. Parahnya lagi, ada yang bilang ini perayaan Kelulusan Matriks…Halah, lulus aja belum tau, lagian matriks itu apa coba D3 bukan, D4 or S1 apalagi. Mereka bilang Matriks bisa dimasukkan kedalam daftar riwayat hidup mereka. Dan tersebutlah, Pendidikan : SD – SMU bla bla bla, D3 STAN, Matrikulasi STAN dan D4 STAN,hue3! Apapun yang mereka katakana,gua bangga dengan persahabatan yang terjadi di kelas Matrikulasi B ini,baik ketika senang (makan-makan seperti diatas) ataupun ketika sedih (bahu-membahu membantu teman yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit).


Kenapa demikian? KARENA KAMI ADALAH THE MATRIKS…!




Minggu, 01 Juni 2008

Ujian Akhir Semester D IV Matrikulasi 2008

Seminggu Menjelang UAS

(Sebuah Pemetaan Ketidakmampuan)


Apa yang terjadi ketika kita berhadapan dengan UAS yang tinggal seminggu lagi? Panik? Takut? Belajar secara sporadik, memfotocopy segala jenis bahan walau itu gak penting? Atau ….? Semua pertanyaan itu merefleksikan diriku ketika D3 dulu.


Tetapi sekarang mendadak semuanya hilang. Semangat yang membara, ketakutan, atau keinginan untuk mendapat nilai yang tinggi seolah bukanlah beban dan target yang harus dicapai. Sekarang yang terfikir dibenakku hanya lulus dan mendapatkan pemahaman yang memadai mengenai materi kuliah yang didapat. Target yang cukup simpel. Mungkin ancaman DO yang tidak lagi menakutkan seperti saat D3 membuatku males belajar…Alasan!


Mengutip dari taktik perang Sun Tzu, “Jika kita ingin menang, maka kita harus memahami diri kita, kemampuan musuh (pesaing) kita dan memahami kondisi lapangan (medan) :) Sekedar untuk memenuhi 3 hal diatas maka gua mencoba untuk memetakan materi UAS satu minggu yang akan datang plus persiapan yang telah gua lakukan. Adapun hasil pemetaan yang telah gua lakukan adalah :


Advanced Accounting

Jadwal Ujian : Senin, 9 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Ch. 9 : Indirect And Mutual Holdings (Persiapan 20%)

2. Ch.12: Foreign Currency Concept & Transaction (Persiapan : 40%)

3. Ch.13: Foreign Currency Financial Statement (Persiapan : 45%)

4. Ch.17: Corporate Liquidation and Reorganization (Persiapan : 40%)

Kesimpulan : Gua Parah banget nih soal Advanced alias gak ngerti



Manajemen Keuangan

Jadwal Ujian : Selasa, 10 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Chapter 9 : CAPITAL BUDGETING DECISION CRITERIA

2. Chapter 10 : ARUS KAS DAN TOPIK LAIN DALAM PENGANGGARAN MODAL

3. Chapter 12 : COST OF CAPITAL

4. Chapter 13 : MENGELOLA NILAI PEMEGANG SAHAM

5. Chapter 15 : ANALISIS DAN DAMPAK LEVERAGE

6. Chapter 16 : MERENCANAKAN BAURAN PENDANAAN PERUSAHAAN

7. Chapter 17 : KEBIJAKAN DIVIDEN DAN PEMBIAYAAN INTERNAL

Kesimpulan : Belum tak baca T_T


Intermediate Accounting

Jadwal Ujian : Rabu, 11 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Ch. 15 : Leases

2. Ch. 19 : Earnings Per Share

3. Ch. 20 : Accounting Changes And Error Corrections

4. Ch. 21 : Analysis of Financial Statement

Kesimpulan : Hanya mengandalkan ingatan. Kalau soal divariasikan, gua gak tau apa yang bakal terjadi. Biarlah yang terjadi tetap terjadi!


Cost Accounting

Jadwal Ujian : Kamis, 12 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Ch. 15 : Budgeting - Profits,Sales,Cost and Expenses

2. Ch. 16 : Budgeting – Capital & RnD Expenditures,Cash,PERT/Cost.

3. Ch. 17 : Responsibilty Accounting n Reporting

4. Ch. 18 : Standard Costing – Setting Standard and Analyzing Variances

5. Ch. 19 : Standaed Costing – Incorporating Accounting Record

6. Ch. 20 : Direct Costing

Kesimpulan : Bisa di tarik garis lurus dengan cara dan intensitas bapaknya ngajar.


Akuntansi Pemerintahan

Jadwal Ujian : Senin, 16 Juni 2008 pukul 11.00-13.30



Materi :

1. Perencanaan & Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

2. Pelaporan Keuangan & Kinerja Instansi Pemerintah

3. Standar Akuntansi Pemerintahan

4. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat

5. Sistem Akuntansi Instansi: Sistem Akuntansi Keuangan

6. Sistem Akuntansi Instansi: Sistem Akuntansi Barang Milik Negara

Kesimpulan : Teori semua! Bakal tak baca pas minggu kedua aja…!


Auditing

Jadwal Ujian : Selasa, 17 Juni 2008 pukul 11.00-13.30



Materi :

1. Jenis-Jenis Pengujian,Program Audit dan Sampling

2. Audit atas Siklus Penjualan dan Penerimaan Kas

3. Audit atas Siklus Pembelian dan Pembayaran

4. Audit atas Siklus Gaji dan Upah

5. Audit atas Siklus Persediaan dan Pergudangan

6. Audit atas Siklus perolehan Modal dan Pembayaran Kembali

7. Audit atas Saldo Kas

8. Audit Penyelesaian audit dan Pelaporan

9. Kasus-kasus (Mesti ngapal dari awal lagi dong, Huh)

Kesimpulan : Sama seperti Akpem, Teorinya bakal tak baca pas minggu kedua. Trus Gimana kalo ada kasus? Mari Berharap pada insting lagi,he3!


Sebuah pemetaan ketidakmampuan…Jadi,setelah kupetakan bahan-bahan ujian nanti, dapatlah diambil kesimpulan bahwa persiapanku adalah Nol Besar,hiks3. Masih ada waktu seminggu buat mewujudkan “Taktik perang Sun Tzu”, walau itu terkadang hanya berupa semangat menggebu tanpa disertai dengan kemampuan :p Pertanyaannya sekarang, Dapatkah aku melakukannya ?