Sebenarnya gak ada hubungan antara Sungai Musi dengan Selat Sunda, Cuma berhubung dalam dua hari ini gua melihat keduanya dalam selang waktu yang tidak berapa lama, so tak certain aja pengalaman yang terjadi diantara keduanya :
- Selat Sunda
Libur telah tiba,saatnya pulang ke
Namun semua itu seakan terbayar ketika menyebrangi Selat Sunda memakai Kapal Feri Rajabasa yang bertolak dari pelabuhan Merak. Timingnya tepat yaitu jam 5 sore,saat matahari mulai akan tenggelam. Pemandangannya menurut gua Extraordinary view. Gua dapat melihat akivitas nelayan memakai kapal kecilnya, kapal-kapal gede yang lagi berlabuh,anak-anak pantai yang terjun bebas dari Kapal Feri yang gua tumpangin, terus yang paling keren Sunset-nya itu lho. Tapi menurut seseorang yang gak boleh disebut namanya :p (kayak Lord Valdemort di Harry Potter aja) “Pemandangannya biasa aja, Tom !” huh, gua jadi sedih, padahal “Your not there,bro...kalo ada dah tak cemplungin di laut tuh, he3!” Dari atas kapal itu,gua dapat ngeliat proses tenggelamnya matahari. Mulai dari tiga perempat, setengah, trus keseluruhan matahari tenggelam di bawah datarnya air laut selat Sunda. Sayang,modal gua Cuma kamera HP yang gak bisa merekam saat-saat itu dengan detil. Waktu Maghrib telah masuk, gua lalu ke Mushola, yaitu bagian paling atas dari kapal. Ketika gua sampai disana, “Masya Allah, pemandangannya ternyata lebih indah.” Gua dapat ngeliat view yang lebih luas, Bahkan dari sini, gua dapat melihat keseluruhan dari bagian kapal. Musholanya juga lumayan bersih, gua jadi betah berlama-lama di Musholanya :)
Akhirnya perjalanan melintasi Selat Sunda selama kurang lebih tiga jam,ditutup dengan dengungan sirine kapal, tanda kapal mulai merapat ke pelabuhan Bakaheuni. Capek gua terbayar deh kalo kayak gini. Tapi? Mikir-mikir lagi kalo mau ke
Diatas Kapal (Bisa keliatan semua dari sini)2. Sungai Musi
Sebenarnya awal dari ngeliat Sungai Musi ini adalah proses ketidaksengajaan. Gua tertipu oleh iklan di salah satu satu sudut
Gak ada perbedaan yang mencolok dari aktivitas di Sungai Musi yang membelah
Apa aja sih yang bisa dilakuin disini? Banyak kok, kita bisa makan di restoran terapung, foto-foto (bagi yang narsis), nongkrong (tapi kafenya di banyakin ya Pak Walikota), atau bagi yang mau jalan-jalan keliling sungai sampe ke Pulau Kemaro (Pulau ditengah-tengah sungai Musi), disediain berbagai jenis kapal. Mulai dari kapal VIP seharga Rp. 70.000/orang sampai dengan kelas ekonomi dengan melalui media perahu Ketek (sejenis perahu kecil dengan mesin tempel) seharga Rp. 15.000/orang. Jenisnya beragam kok tergantung kocek kita masing-masing.
Pinggiran Sungai Musi sekarang memang telah dijadikan salah satu objek wisata di
Karena waktu yang terbatas dan temen-temen gak ada yang mau diajakin naik kapal keliling Sungai Musi, akhirnya kami memutuskan untuk Check out. Tiba-tiba Miss Traktir melontarkan suatu ide untuk makan siang bareng, tentunya dengan meminta traktir dari salah satu dari kami yang ada disana pada waktu itu. Dan Radi yang menjadi orang yang paling beruntung siang itu, he3. Makasih,Chun buat traktirannya siang itu. Perjalanan ditutup dengan makan-makan di Es Mamat di Lapangan Hatta (Nih tempat pernah masuk wisata kulinernya Pak Bondan lho…).




























.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

