Selasa, 24 Juni 2008

Gantung


(Sebuah Cerpen dikala Liburan)


Matahari telah berada tepat diatas kepala ketika Rendy dengan paniknya membereskan meja kerjanya dan bersiap-siap untuk makan siang. Sebenarnya kata panik tidak tepat untuk dipakai disini, sebab yang panik bukanlah Rendy, akan tetapi yang sedang terjadi sekarang adalah demo besar-besaran oleh cacing diperutnya menuntut pembagian BLT berupa ransum.


Tanpa awan atau petir, tiba-tiba kepala Dian muncul perlahan dibalik partisi meja kerja Rendy sambil berusaha mengejutkan sahabatnya itu.


“Dor…Dor...!”


“Halah, tak kirain siapa ternyata kamu, Yan! Kenapa?”


“Ren, hari ini mau makan dimana ?”


“Mm, diwarung Bu Aris aja, gua lagi dalam program tight money policy nih.”


“Oh gitu, Kalo gitu gua ikut”, Ujar Dian sambil mengacungkan jari telunjuknya. Dian kemudian memperhatikan Rendy dengan seksama dan menanyakan apa yang dia pikirkan dikepalanya, “Eh mukamu kusut banget, ada masalah apa sih? ” Dian kemudian berfikir sejenak, “Rini gimana kabarnya?, udah mulai mundur perlahan kan ?”


“Udah, tapi gak tau yah kok tiba-tiba aku deket lagi dengan dia”, Rendy berhenti sejenak dari aktivitas beres-beresnya, “Aku sempet berfikir bahwa aku harus merubah masterplan yang telah kubuat. Aku merasa cocok dengan dia dan berharap bisa membuat rencana yang baru. Tetapi setelah kutelusuri lebih lanjut, kayaknya aku harus balik ke masterplan awal yang telah kubuat sebelumnya.”


“Bukannya udah jelas. Kalo kamu mau tetep pada masterplan yang telah kamu buat, kamu harus mundur secara perlahan. Aku udah bilang itu berkali-kali ke kamu. Cewe itu gak boleh digantungin. Kamu sebagai cowo harus punya sikap dong.” Nada bicara Dian kali ini tampak lebih serius. Dian yang terkenal Narsis, konyol, suka bercanda tidak terliat lagi sekarang. Yang ada adalah Dian yang berusaha untuk memaparkan tentang konsep yang dia rasa perlu untuk diketahui oleh sahabatnya itu.


Mendengar nasehat yang di berikan sahabatnya itu, Pikiran Rendy seakan melayang. Yup, konsep tentang satu kata berjudul “gantung” seakan meraung-raung dikepalanya. Dia sadar betul bahwa dia adalah orang yang sangat membenci untuk menggantungkan seseorang. Dia ingat betul bahwa dia dengan lantangnya berkata “tidak” pada Ida, seorang gadis yang menyuruhnya untuk melamarnya. Padahal bisa saja dia bilang, tunggu 1 atau 2 tahun lagi. Tetapi kenapa tidak dia mengatakan hal semacam itu? Karena dia paham betul, bahwa jika dia melakukan hal itu, berarti dia telah menghalangi jodoh wanita tersebut. Bukan masanya lagi pacaran dan bermain-main seperti saat kuliah atau SMU. Saat ini adalah saat baginya untuk pandai-pandainya memutuskan tentang masa depannya. Bagi Rendy hanya ada dua kata, yaitu :

1. Ya, atau

2. Tidak

Nanti aja dua tahun lagi, satu setengah tahun lagi, dan lain-lain. “Nanti” adalah kata lain dari gantung dan itu tidak ada didalam kamusnya. Dia berfikir, kalo bisa dikaitkan dengan akuntansi, dia akan bilang tidak ada Long Term Liabilities, tetapi yang dia kenal hanyalah Current Liabilities. Hue3…Gak nyambung yah! Akhirnya, setelah berfikir semalaman ditambah nasihat dari sahabatnya, Rendy yakin bahwa ia telah berbuat kesalahan dan harus segera ia perbaiki.


“Kali in gua udah bisa bilang bahwa gua akan tetap pada masterplan yang udah gua buat sebelumnya dan gak akan gua ubah,” Ujar Rendy.


“Lho yakin?”, Dian berkata dengan sinisnya.


“Yakin”, Rendy menjawabnya dengan mantap.


Bip…Bip…Bip…! Handphone Rendy bergetar. Dia mengeluarkan Handphone dari saku celananya dan membaca nama yang tertera di layar Handphone yang dia pegang. Panggilan dari Ida. “Ya, Halo, Assalamualaikum!”


Suara Ida dari seberang telepon terdengar dengan jelasnya,”Halo Ren, Pa kabar? Baik kan? Gua nelpon cuma buat ngabarin bahwa gua mau ngundang lho ke pernikahan gua bulan depan. Undangannya nyusul kok. Dateng ya!”


“Alhamdulillah. Insya Allah gua dateng kok”, Rendy memandang kearah Dian sambil tersenyum.


“Makasih…!”, Sahut Ida sambil mengakhiri pembicaraan singkat mereka di telpon.


Rendy menutup telpon dan memasukkan Handphone-nya kembali kesaku celananya. “Ya,udah. Gua laper banget nih. Yuk makan!”, Rendy segera melangkah meninggalkan partisi meja kerjanya yang kebetulan berdekatan dengan meja kerja Dian.


“Gua udah nunggu kamu ngajak dari tadi. Traktir ya? Gua lagi pengen Jengkol nih, hue3! Bercanda kok.”


“Untuk kali ini gua traktir lho, Yan! Asal jangan sama jengkol ya? Kasian yang bersihin WC-nya”,Rendy tertawa renyah. Rendy kembali melayangkan pikirannya, gua harus mundur secara perlahan. Yup, I’ll do it.



Minggu, 22 Juni 2008

Sungai Musi Vs Selat Sunda

Sebenarnya gak ada hubungan antara Sungai Musi dengan Selat Sunda, Cuma berhubung dalam dua hari ini gua melihat keduanya dalam selang waktu yang tidak berapa lama, so tak certain aja pengalaman yang terjadi diantara keduanya :


  1. Selat Sunda

Libur telah tiba,saatnya pulang ke Palembang. Waktu pulang pun ditetapkan yaitu pada hari kamis tanggal 19 Juni 2008. Sekarang tinggal memilih mau pulang naek apa? Pilihan perjalanan lalu ditetapkan,yaitu antara naik Pesawat atau lewat jalur darat. Namun ketika menayakan harga tiket pesawat, “Hah 500rb, Gak salah?” Sambil mencoba menghitung berdasarkan logika dan mencoba menelaah “Free Cashflow” yang gua punya sekarang (berhubung gua mahasiswa, hue3). Akhirnya Jalur darat melalui media transportasi Bis Lorena yang gua pilih. Agak gak rela melewatkan waktu 18 Jam yang membosankan di Bis, namun pertimbangan ekonomis harus dilakukan. Secara gua baru beli tas baru, so gua harus nutup defisit anggaran dengan penghematan disektor laen (sok ilmiah neh). Beruntung gua gak sendiri, yup gua ditemeni sahabat baik gua yang udah tak anggap seperti Saudara sendiri, Nies :)


Namun semua itu seakan terbayar ketika menyebrangi Selat Sunda memakai Kapal Feri Rajabasa yang bertolak dari pelabuhan Merak. Timingnya tepat yaitu jam 5 sore,saat matahari mulai akan tenggelam. Pemandangannya menurut gua Extraordinary view. Gua dapat melihat akivitas nelayan memakai kapal kecilnya, kapal-kapal gede yang lagi berlabuh,anak-anak pantai yang terjun bebas dari Kapal Feri yang gua tumpangin, terus yang paling keren Sunset-nya itu lho. Tapi menurut seseorang yang gak boleh disebut namanya :p (kayak Lord Valdemort di Harry Potter aja) “Pemandangannya biasa aja, Tom !” huh, gua jadi sedih, padahal “Your not there,bro...kalo ada dah tak cemplungin di laut tuh, he3!” Dari atas kapal itu,gua dapat ngeliat proses tenggelamnya matahari. Mulai dari tiga perempat, setengah, trus keseluruhan matahari tenggelam di bawah datarnya air laut selat Sunda. Sayang,modal gua Cuma kamera HP yang gak bisa merekam saat-saat itu dengan detil. Waktu Maghrib telah masuk, gua lalu ke Mushola, yaitu bagian paling atas dari kapal. Ketika gua sampai disana, “Masya Allah, pemandangannya ternyata lebih indah.” Gua dapat ngeliat view yang lebih luas, Bahkan dari sini, gua dapat melihat keseluruhan dari bagian kapal. Musholanya juga lumayan bersih, gua jadi betah berlama-lama di Musholanya :)


Akhirnya perjalanan melintasi Selat Sunda selama kurang lebih tiga jam,ditutup dengan dengungan sirine kapal, tanda kapal mulai merapat ke pelabuhan Bakaheuni. Capek gua terbayar deh kalo kayak gini. Tapi? Mikir-mikir lagi kalo mau ke Jakarta naek bis lagi, Tapi liat aja ntar deh. Soalnya pengen nyantai dulu di Palembang, baru mikirin cara buat pulang, hue3…


Senja di Kapal Rajabasa
Foto dulu :)
Senja Lagi, sayang kameranya gak support
Diatas Kapal (Bisa keliatan semua dari sini)

2. Sungai Musi


Sebenarnya awal dari ngeliat Sungai Musi ini adalah proses ketidaksengajaan. Gua tertipu oleh iklan di salah satu satu sudut kota yang menyatakan ada pameran disana. Hari sabtu kemaren, tanggal 21 Juni 2008 bersama Radi,Fahmi dan Nies gua berangkat ke Benteng Kuto Besak (BKB). Alih-alih mau ngeliat pameran, eh ternyata cuma ngeliat Walikota yang lagi meresmikan lomba mancing. Daripada gak dapet apa-apa, akhirnya sisi narsis gua timbul deh, dengan dibantu oleh Nies akhirnya gua foto-foto :)


Gak ada perbedaan yang mencolok dari aktivitas di Sungai Musi yang membelah Palembang menjadi Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari dulu sampai sekarang. Sungai didominasi oleh lalu lalang perahu kecil, baik itu yang mengangkut penumpang atau yang mengangkut barang kebutuhan sehari-hari. Perahu sedang tampak sesekali lewat, perahu patroli angkatan laut pun tampak terlihat siang itu, tetapi tidak terlihat perahu besar yang lalu-lalang siang itu. Mungkin tidak ada aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bombaru, Pertamina atau Pusri yang membuat Kapal dengan skala lebih besar tidak nampak siang itu. Bagi masyarakat setempat disini, sungai adalah denyut nadi perekonomian mereka yang utama. Tidak salah kalau dulu kerajaan Sriwijaya yang berbasis maritim berpusat disini. Bahkan warga setempat menganalogikan bahwa sungai adalah laut. Coba aja tanya kesalah satu penduduk pinggiran sungai Musi saat mengawali aktivitas sehari-hari mereka dipagi hari. “Mau kemana, Pak?” Dengan entengnya mereka akan menjawab, “Mau kelaut.”


Apa aja sih yang bisa dilakuin disini? Banyak kok, kita bisa makan di restoran terapung, foto-foto (bagi yang narsis), nongkrong (tapi kafenya di banyakin ya Pak Walikota), atau bagi yang mau jalan-jalan keliling sungai sampe ke Pulau Kemaro (Pulau ditengah-tengah sungai Musi), disediain berbagai jenis kapal. Mulai dari kapal VIP seharga Rp. 70.000/orang sampai dengan kelas ekonomi dengan melalui media perahu Ketek (sejenis perahu kecil dengan mesin tempel) seharga Rp. 15.000/orang. Jenisnya beragam kok tergantung kocek kita masing-masing.


Pinggiran Sungai Musi sekarang memang telah dijadikan salah satu objek wisata di Palembang. Namun menurut gue, ada banyak kekurangannya. Mungkin ini hanya dari sudut pandang gua sebagai orang awam, namun cukuplah dijadiin referensi buat yang mau kesana. Yang pertama, Faktor keamanan. Kenapa gak sekalian dibangun Polsek disini, biar para penodong dan penjambret pada kabur. Essensi utama dari industri pariwisata adalah keamanan. Gimana mau seneng-seneng kalo mengeluarkan kamera aja kita takut akan di jambret orang. Lalu faktor kedua yang gua sorotin disini yaitu kurangya fasilitas. Sebagai contoh : penerangan di malam hari, fasilitas tempat parkir yang masih semerawut, fasilitas permainan yang masih minim, tempat penjualan souvenir yang susah dicari (bisa dijadiin peluang bisnis nih), intinya orang gak betah buat berlama-lama disini (kecuali yang pacaran,hue3). Ketiga, Kurangnya event-event yang disediain disini, baik yang berskala lokal, nasional, maupun internasional, terus promosinya juga masih kurang (kurang dana atau apa? Kok setengah-setengah). Trus yang Keempat, Palembang kok panas ya, he…he…he (yang terakhir ini gak penting buat dicatet).


Karena waktu yang terbatas dan temen-temen gak ada yang mau diajakin naik kapal keliling Sungai Musi, akhirnya kami memutuskan untuk Check out. Tiba-tiba Miss Traktir melontarkan suatu ide untuk makan siang bareng, tentunya dengan meminta traktir dari salah satu dari kami yang ada disana pada waktu itu. Dan Radi yang menjadi orang yang paling beruntung siang itu, he3. Makasih,Chun buat traktirannya siang itu. Perjalanan ditutup dengan makan-makan di Es Mamat di Lapangan Hatta (Nih tempat pernah masuk wisata kulinernya Pak Bondan lho…).


Fahmi,Radi n Me
Es Mamat
Di depan Ampera

Ampera n Me

Selat Sunda, Sungai Musi dan Suatu perjalanan singkat. Itulah yang bisa gua simpulkan dari posting yang gua bikin hari ini.

(All pictures are taken by My friend, Nies)


Sabtu, 21 Juni 2008

Akhir Doraemon (Sedih Banget...!)

Sebagai salah satu Penggemar Doraemon, saya ingin membagi kisah Akhir dari komik Doraemon yang disukai oleh banyak anak2 diseluruh Dunia :

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)

(16)

Ternyata Akhir dari Komik Doraemon berisi nilai moral yang sangat dalam. Bahkan Nobita yang memiliki seorang Doraemon pun harus bekerja sendiri (tanpa bantuan alat Doraemon). Segala sesuatu harus didapatkan dengan "Perjuangan"...Bukan diam dan terus bermimpi.

Seperti yang dikatakan oleh Soichiro Honda "The Power of Dream is To Encourage you to do something, Not Just Sit and Think about Your Dream."

Hidup Adalah Perjuangan...!


Karena Kami Adalah “The Matriks”




Foto-Foto di Situgintung



Apri dan Doan plus Tejo (Hadiah Doorprize)


Cobain (menang lagi) Puput (mewakili mas Otto), Wayan dan Mas Eko




Mas Imam, Atika Cobain dan Mike



Dikampus


UAS baru aja selesai beberapa hari yang lalu.
Tapi yang gua heran, Euforia yang dirasakan temen-temen di kelas Matrikulasi ini seolah-olah mereka telah menyelesaian Thesis S2, hue3!
Kalo dipikir-pikir lucu juga ya.


Peristiwa ini dimulai dengan Foto-foto dikelas setelah ujian hari terakhir.
Gak cukup itu aja, foto-foto kemudian dilanjutkan ke Halaman Kampus dan sekitarnya.
Berbagai pose andalan mulai dikeluarkan.
Mulai dari senyum yang bikin mata sepet, Loncat-loncat kayak kutu yang digoreng, jungkir balik kesana kemari seolah-olah mereka adalah pemain sepakbola ternama dengan gaji jutaan dollar,


Cukupkah sampe disitu?
Tidak juga, Acara dilanjutkan dengan makan-makan dirumah makan Situgintung di daerah Ciputat. Acara didesign seunik mungkin, mulai dari nyanyi,pemutaran pilem kelas, games, doorprize dan award yang diberikan pada anggota kelas “teraneh”
Aneh disini bisa jadi positif ataupun negatif.

Gua sebutin aja kriterianya :

  1. Ada yang terlambat (yang suka telat dateng) : Pemenangnya Mas Otto.
  2. Ada yang Tertidur (yang suka tidur) : The Winners goes to Mas Imam
  3. Ternarsis (Suka senyum-senyum sendiri di kelas) : Cobain paling pas buat yang ini.
  4. Then Tercablak (Paling suka ceplas-ceplos dikelas) : Tebak siapa? Yup bener Atika.
  5. Siapa yang mau jadi Teraniaya? (yang suka diceng-in di kelas) : Kasihan deh kamu Mike
  6. Ada yang Terunik (Gak tau yang dilihat dari segi mananya) : Dan Cobain Menang lagi deh. Nih anak emang aneh.
  7. The last but not Least adalah kategori Terbaik (Best Student) : Wayan-lah yang paling cocok. Udah pinter di kelas, Olahraga, maen Musik, plus Pinter Pacaran lagi (kata Cobain),he3


Kategori-kategori diatas di Tambah lagi dengan kategori “Live Time Achievement Awards” yang jatuh pada pak Ketua Kelas, Saudara “Apriyanto Setiawan”. Selamat buat pak ketua,he3. Emang ada yang bilang bahwa acara penghargaan semacam ini sudah biasa dilakuin. Tetapi menurutku ini menjadi tidak wajar karena nih kelas belum akan pisah. Paling-Paling tanggal 30 Juni nanti udah ketemu dan belajar seperti biasanya lagi.


Jadi, buat apa acara perpisahan ini? Ada yang bilang, ini perayaan setelah UAS bukan perpisahan. Parahnya lagi, ada yang bilang ini perayaan Kelulusan Matriks…Halah, lulus aja belum tau, lagian matriks itu apa coba D3 bukan, D4 or S1 apalagi. Mereka bilang Matriks bisa dimasukkan kedalam daftar riwayat hidup mereka. Dan tersebutlah, Pendidikan : SD – SMU bla bla bla, D3 STAN, Matrikulasi STAN dan D4 STAN,hue3! Apapun yang mereka katakana,gua bangga dengan persahabatan yang terjadi di kelas Matrikulasi B ini,baik ketika senang (makan-makan seperti diatas) ataupun ketika sedih (bahu-membahu membantu teman yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit).


Kenapa demikian? KARENA KAMI ADALAH THE MATRIKS…!




She doesn’t have that smile



(sebuah wacana dari seorang teman)

Sebuah percakapan di telepon :

Temen : “Tom,kemaren gua ketemu seseorang Lho?”

Gua : “Gimana? Orangnya cakep?”

Temen : “Lumayan sih, dia anaknya udah kerja di bla bla bla, orangnya baik lagi”

Gua : "Sekarang dia tinggalnya dimana?"

Temen : "Jakarta."

Gua : “Trus?”

Temen : “Sayang, She doesn’t have that smile”

Gua : “ #$@%!&*(!*? ”

(Dan obrolan tentang topik ini pun terhenti sampai disini seolah tidak ada hal lain yang bisa untuk diangkat dan dijadikan bahan pembicaraan lagi)


Satu kalimat yang mengekspresikan bahwa seseorang yang kita harapkan, tidak sesuai dengan yang kita ekspektasikan selama ini.

Dia itu Agamanya bagus lho,

Dia juga Akhlaknya gak ngecewain,

Terus dia orangnya bertanggung jawab,Bisa mimpin, dan laen-laen.

Sayang, “She doesn’t have that smile.”

It’s all about Physics? Gak juga.

Kalo gua boleh mengutip dari satu judul lagu, Gua bakal bilang satu kata “Klik.”

Gimanapun kita paksain kalo udah gak ada “klik” yang tercipta, gak bakal bisa melangkah to the next level.

Dan sekali lagi kata-kata itu terngiang di telingaku,

"She doesn't have that smile..."



Minggu, 01 Juni 2008

Ujian Akhir Semester D IV Matrikulasi 2008

Seminggu Menjelang UAS

(Sebuah Pemetaan Ketidakmampuan)


Apa yang terjadi ketika kita berhadapan dengan UAS yang tinggal seminggu lagi? Panik? Takut? Belajar secara sporadik, memfotocopy segala jenis bahan walau itu gak penting? Atau ….? Semua pertanyaan itu merefleksikan diriku ketika D3 dulu.


Tetapi sekarang mendadak semuanya hilang. Semangat yang membara, ketakutan, atau keinginan untuk mendapat nilai yang tinggi seolah bukanlah beban dan target yang harus dicapai. Sekarang yang terfikir dibenakku hanya lulus dan mendapatkan pemahaman yang memadai mengenai materi kuliah yang didapat. Target yang cukup simpel. Mungkin ancaman DO yang tidak lagi menakutkan seperti saat D3 membuatku males belajar…Alasan!


Mengutip dari taktik perang Sun Tzu, “Jika kita ingin menang, maka kita harus memahami diri kita, kemampuan musuh (pesaing) kita dan memahami kondisi lapangan (medan) :) Sekedar untuk memenuhi 3 hal diatas maka gua mencoba untuk memetakan materi UAS satu minggu yang akan datang plus persiapan yang telah gua lakukan. Adapun hasil pemetaan yang telah gua lakukan adalah :


Advanced Accounting

Jadwal Ujian : Senin, 9 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Ch. 9 : Indirect And Mutual Holdings (Persiapan 20%)

2. Ch.12: Foreign Currency Concept & Transaction (Persiapan : 40%)

3. Ch.13: Foreign Currency Financial Statement (Persiapan : 45%)

4. Ch.17: Corporate Liquidation and Reorganization (Persiapan : 40%)

Kesimpulan : Gua Parah banget nih soal Advanced alias gak ngerti



Manajemen Keuangan

Jadwal Ujian : Selasa, 10 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Chapter 9 : CAPITAL BUDGETING DECISION CRITERIA

2. Chapter 10 : ARUS KAS DAN TOPIK LAIN DALAM PENGANGGARAN MODAL

3. Chapter 12 : COST OF CAPITAL

4. Chapter 13 : MENGELOLA NILAI PEMEGANG SAHAM

5. Chapter 15 : ANALISIS DAN DAMPAK LEVERAGE

6. Chapter 16 : MERENCANAKAN BAURAN PENDANAAN PERUSAHAAN

7. Chapter 17 : KEBIJAKAN DIVIDEN DAN PEMBIAYAAN INTERNAL

Kesimpulan : Belum tak baca T_T


Intermediate Accounting

Jadwal Ujian : Rabu, 11 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Ch. 15 : Leases

2. Ch. 19 : Earnings Per Share

3. Ch. 20 : Accounting Changes And Error Corrections

4. Ch. 21 : Analysis of Financial Statement

Kesimpulan : Hanya mengandalkan ingatan. Kalau soal divariasikan, gua gak tau apa yang bakal terjadi. Biarlah yang terjadi tetap terjadi!


Cost Accounting

Jadwal Ujian : Kamis, 12 Juni 2008 pukul 11.00-13.30


Materi :

1. Ch. 15 : Budgeting - Profits,Sales,Cost and Expenses

2. Ch. 16 : Budgeting – Capital & RnD Expenditures,Cash,PERT/Cost.

3. Ch. 17 : Responsibilty Accounting n Reporting

4. Ch. 18 : Standard Costing – Setting Standard and Analyzing Variances

5. Ch. 19 : Standaed Costing – Incorporating Accounting Record

6. Ch. 20 : Direct Costing

Kesimpulan : Bisa di tarik garis lurus dengan cara dan intensitas bapaknya ngajar.


Akuntansi Pemerintahan

Jadwal Ujian : Senin, 16 Juni 2008 pukul 11.00-13.30



Materi :

1. Perencanaan & Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

2. Pelaporan Keuangan & Kinerja Instansi Pemerintah

3. Standar Akuntansi Pemerintahan

4. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat

5. Sistem Akuntansi Instansi: Sistem Akuntansi Keuangan

6. Sistem Akuntansi Instansi: Sistem Akuntansi Barang Milik Negara

Kesimpulan : Teori semua! Bakal tak baca pas minggu kedua aja…!


Auditing

Jadwal Ujian : Selasa, 17 Juni 2008 pukul 11.00-13.30



Materi :

1. Jenis-Jenis Pengujian,Program Audit dan Sampling

2. Audit atas Siklus Penjualan dan Penerimaan Kas

3. Audit atas Siklus Pembelian dan Pembayaran

4. Audit atas Siklus Gaji dan Upah

5. Audit atas Siklus Persediaan dan Pergudangan

6. Audit atas Siklus perolehan Modal dan Pembayaran Kembali

7. Audit atas Saldo Kas

8. Audit Penyelesaian audit dan Pelaporan

9. Kasus-kasus (Mesti ngapal dari awal lagi dong, Huh)

Kesimpulan : Sama seperti Akpem, Teorinya bakal tak baca pas minggu kedua. Trus Gimana kalo ada kasus? Mari Berharap pada insting lagi,he3!


Sebuah pemetaan ketidakmampuan…Jadi,setelah kupetakan bahan-bahan ujian nanti, dapatlah diambil kesimpulan bahwa persiapanku adalah Nol Besar,hiks3. Masih ada waktu seminggu buat mewujudkan “Taktik perang Sun Tzu”, walau itu terkadang hanya berupa semangat menggebu tanpa disertai dengan kemampuan :p Pertanyaannya sekarang, Dapatkah aku melakukannya ?







Farah's Tale



(Sebuah Adaptasi dari Travellers' Tale karya Adhitya Mulya)



Farah Tale (Chapter I)


Sebuah Pertemuan



Siang itu, akhir bulan Juli 1996 merupakan hari yang berat bagi Jusuf kecil. Bagaimana tidak, hari itu merupakan hari dimana ia harus berpisah dengan teman-teman SD yang disayanginnya. Sekolah Dasar adalah masa paling membahagiakan bagi Jusuf kecil, disini ia merasa lebih dihargai dan ia lebih bisa menunjukkan aktualisasi dirinya disana. Hampir semua teman-teman seangkatannya mengenalnya begitu pula guru-gurunya. Berbeda 180 derajat, ketika ia di SMP, ia seperti tidak dianggap. Tidak banyak orang yang mengenalnya, kalaupun ada itupun karena kenakalannya. Sedangkan di SMA, ia hanya menjadi murid Medioker yang prestasinya menggantung. Bagus tidak dan kalaupun dibilang jelek juga tidak. Lalu kenapa dengan perpisahan? Bagi mereka yang sudah dewasa, perpisahan adalah hal yang biasa. Tetapi bagi Jusuf kecil, ini merupakan perpisahan "massal" pertamanya dengan teman-teman SD-nya. Dan yang tak kalah sedihnya, ia harus berpisah dengan "sahabat kecil"-nya, Farah. Farah akan pindah keluar kota, sedang Jusuf akan tetap berada di kotanya sekarang.



Siapa sih Farah itu? Tidak ada yang istimewa dengan Farah. Farah hanyalah teman sepermainan si Jusuf kecil. Apakah Farah adalah cinta pertama bagi si Jusuf kecil ? Tidak juga, Mungkin karena akrab dengan Farah. Banyak teman-teman yang mengejek bahwa mereka pacaran. Padahal, Come on…they’re just a kid. Tidak ada pikiran kesana. Yang mereka tau hanya bermain, bermain, dan bermain.



Tetapi ada yang aneh dengan si Jusuf Kecil. Sering kali ia bermimpi aneh. Ia bermimpi bahwa ia sedang bermain disebuah halaman (mimpi seorang anak kecil), tetapi didalam mimpinya ia tidak bermain sendiri. Ia bermain dengan sosok perempuan sebayanya. Dan Farah adalah sosok yang hadir didalam mimpi-mimpinya. Sebagian orang dewasa mungkin akan menertawakan Jusuf Kecil, tetapi bagi Jusuf kecil ini bukanlah hal yang main-main. Ia menanggapi dengan serius,tiap mimpi yang ia dapati tentang Farah.



Hari berganti hari, Jusuf kecil telah tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Jusuf kecil teringat dengan sebuah kata mutiara yang berbunyi : “Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca (Charles Jones_red). Jusuf kecil telah menjadi orang yang berbeda. Bukan Cuma lima tahun,tetapi Tiga belas tahun telah berlalu. Jusuf sekarang telah menjadi orang yang berbeda,ia sekarang telah bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta yang letaknya ratusan kilometer dari tempat kelahirannya, Palembang.


Segala sesuatu memang banyak yang telah berubah, tetapi dari sekian banyak perubahan, hanya ada satu yang tidak berubah. Ia terkadang memimpikan hal yang sama seperti saat dia kecil dulu. Baik itu ketika ia SMP,SMU atau kuliah, ia tetap bermimpi tentang Farah. Yup, mimpi yang sama. Apakah ia pernah mencoba untuk mencari dimana Farah? Tentu saja pernah. Ia telah banyak bertanya dengan teman-teman masa kecilnya yang mungkin mengetahui dimana keberadaan Farah. Namun, semua usaha yang dilakukannya hanya bernilai nol besar. Ia pun pernah mencoba mencari tahu dimana kota tempat Farah tinggal, jejak yang ada mengatakan bahwa Farah ada di Bogor selama SMP, namun ia hanya tahu sampai disitu. Ia tidak tahu dimana farah tinggal selama SMA ataupun sekarang. Pernah teman kuliah Jusuf bertemu dengan Farah di tempat kursusnya dan memberikan nomor HP Jusuf kepadanya. Tetapi, Farah tak kunjung menghubunginya. Jusuf pernah bilang pada temannya itu agar meminta nomor HP Farah, lagi-lagi ia harus menelan pil pahit. Temannya telah tidak lagi kursus ditempat yang dimaksud. Didalam hati, Jusuf pernah berujar. “Aku ingin bertemu denga Farah, entah bagaimanapun kondisinya kelak.”


Singkat cerita, Jusuf menjalani hidupnya seperti biasa tanpa mengetahui dimana keberadaan Farah sampai dengan sekarang.


***


Jusuf sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung, ketika sebuah sms masuk dan menyela lagu sahabat kecilku yang dinyanyikan oleh penyayi cilik Gita Gutawa di MP3 yang sedang dimainkan di HPnya. Jusuf yang baru pulang dari Kantor Cabang perusahaannya di Bandung masih terlihat letih dan dengan malasnya membuka sms yang masuk tadi. Nomor tak di kenal ?


“Siapa Sih ?” Jusuf menekan pilihan “open” di Handphone-nya dan membaca sms yang masuk tadi.


“Ass. P kbr? Ini tomi y? Msh knl aq gk tmn lma dlu wkt SD?”, tulisan sms balasan yang masuk seolah ingin bermain tebak-tebakan dengan Jusuf.


Jusuf sempat terkejut dengan sms balasan yang bisa tahu panggilan kecilnya itu, tetapi karena masih letih dan malas buat bermain-main. Jusuf hanya menjawab sekenanya. “Mana gua tahu, emang gua dukun. Siapa sich ini?”


Cukup lama HP Jusuf tidak bereaksi sampai suatu ketika terdengar raungan nada telepon genggamnya sebagai tanda bahwa ada sebuah sms yang masuk. Dengan raut muka yang terlihat masih kesal, Jusuf membuka perlahan sms yang masuk dan melihat tulisan yang tertera di layar Handphone-nya.


“Gua Farah, Masih inget? “



====================================================================


Farah Tale (Chapter II)

Kegembiraan


Masih teringat dengan jelas diingatannya bagaimana ia mendapat sms pertama dari Farah. Sambil membayangkannya, senyum simpul muncul disudut kanan bibir Jusuf. Pada saat itu, ia seperti orang gila. Tingkahnya jadi aneh malam itu, mulai dari Jungkir balik kekanan dan kekiri, lalu lompat-lompat kecil, nyanyi lagu Indonesia Raya, sampai ia tersadar ketika Bibinya menegurnya karena terlalu berisik. Jusuf memang tinggal bersama pamannya karena kantornya berada dekat dengan rumah pamannya. Sebenarnya ia lebih prefer ngekost, tetapi ketika ia mengutarakan niatnya itu pada pamannya, ia malah diancam bahwa gak bakal diakuin keluarga lagi. Hayo, gimana lagi? Lagian lumayanlah kan gratisan,he3! Klik, Jusuf membuka Winamp di komputer bututnya, lalu ia memutar Lagu Sahabat Kecilku yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa.


Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali


Sahabat kecilku
Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia


Tak ada satupun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya


Tiada tiada lagi tawamu
Yang selalu menemani segala sedihku
Tiada tiada lagi candamu
Yang selalu menghibur disaat ku lara


Bila malam tiba
Ku selalu mohonkan Tuhan
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi


Tiada tiada lagi tawamu
Yang selalu menemani segala sedihku


Tiada tiada lagi candamu
Yang selalu menghibur disaat ku lara


Sahabat kecilku, masihkah kau ingat aku


Sebuah lagu yang mengingatkannya dengan Farah. Lagu yang merefleksikan bagaimana doa Gita Gutawa didalam lagu tersebut, telah dijawab oleh Allah didalam kehidupannya kini.


"Bila malam tiba
Ku selalu mohonkan Tuhan
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lag
i"


“Doaku telah terjawab. Farah telah kembali didalam kehidupanku!”,ujarnya dalam hati


Ia kemudian meng-sms Farah, “Far,kamu kemana aja selama ini? Seneng banget menerima sms dari kamu. Tau gak, selama ini aku mencari tau dimana keberadaan kamu”, Jusuf dengan antusiasnya mengirimkan sms buat Farah dengan terkadang senyum simpul Jusuf terlihat di bibir sebelah kanan bawahnya.


Jusuf merasakan perasaan senang yang amat sangat saat ini. Sms perdana Farah telah membuatnya seakan melayang ke langit ketujuh saat ini. Dan kalau boleh teriak sekencang-kencangnya pastilah ia akan berteriak mengeluarkan segenap energi kegembiraan yang ada pada dirinya. Sayang, pemukiman di Jakarta Utara yang padat tidak memungkinkan Jusuf untuk melakukan hal tersebut. Salah-salah, ia bisa disangka teriak karena telah melihat maling dan penduduk satu kampung dengan senjata lengkap akan keluar untuk bersiap-siap melakukan serangan umum besar-besaran terhadap sasaran maling fiktif yang diteriakan oleh Jusuf. Ia lalu mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengirimkan sms kepada Farah daripada teriak tidak jelas.


“Aku gak kemana-mana kok, aku masih di Palembang. Setelah selesai mondok di Bogor, aku balik ke Palembang lagi buat ngambil S1 disini.” Jawab Farah.


Jusuf melanjutkan smsnya, “lalu dari mana kamu tau nomorku ? Mm…Aku tau, pasti dari Afan ya?”


“Afan mana ya? Salah tuh, coba tebak aja sendiri, he3!”, Farah kembali mengajak Jusuf untuk bermain tebak-tebakan. Permainan yang sama ketika sms pertama dari Farah, tetapi bedanya kali ini Jusuf seolah masuk dalam permainan dan tidak menolak untuk dipermainkan oleh Farah.


“Siapa dong?”, Jusuf mencoba untuk mencari tau kembali.


“Pikir aja sendiri, hue3!”


Jusuf berfikir keras mencari tau dari siapa Farah mendapatkan nomornya. Ia lalu teringat pada kakak tingkatnya di kampus yang pernah menyebutkan sebuah nama, yup “Farah”. Pada waktu itu kakak tingkatnya itu sedang dekat dengan seorang wanita bernama Farah, tidak disangka dunia memang sempit. Dia tidak mengira bahwa Farah yang disebutkan oleh kakak tingkatnya tersebut adalah Farah yang selama ini ia cari. Ia mencoba menghubungi kakak tingkatnya yang kebetulan sudah menikah tersebut, tetapi nomor Handphone yang dihubunginya tersebut tidak aktif lagi. Dasar, ia tidak dapat mengerti jalan pikiran orang yang sering berganti nomor HP, bukankah hal tersebut akan menyulitkan orang yang akan menghubungi mereka.


“Gua tau”, teriak Jusuf dalam hati, “pastilah dari Francis, dunia memang sempit”.


“Kalo gua tau mau dikasih apa ?”, gertak Jusuf kepada Farah lewat smsnya yang kesekian kali.


“Dikasih ucapan selamat ditambah tepuk tangan”, Farah menjawab dengan sedikit cuek.


“francis bukan?”


Farah tidak mengiyakan dan tidak pula mengatakan tidak kali ini. Jusuf tau, ia tidak memerlukan jawaban iya dari Farah, karena ia sudah sangat yakin tentang ini. Mereka kemudian asik bersms selama hampir 2 jam lebih. Jam sepuluh lebih, Jusuf tertidur dengan membawa sejuta mimpi. Ia tidur sambil tersenyum pada malam itu.


***


Bunyi alarm Handphone Jusuf berbunyi. Sudah jam 5 pagi, ia belum sholat Shubuh dan harus bersegera diri mandi lalu berangkat kekantor. Tidak seperti biasanya, pagi ini ia lebih bersemangat untuk berangkat kekantor. Ia tidak tau kenapa hari senin yang biasanya membosankan dan memberikan efek malas untuk bangkit dari tempat tidur ternyata hari ini terasa berbeda baginya. Dalam hati ia berkata, “Semua karena Farah”.


Setelah mandi, ia teringat Farah. Ia ingin sekali mendengar suara Farah. Ia lalu memberanikan diri untuk menelfon Farah.Sebuah percakapan singkat yang terjadi selama kurang dari semenit. Jusuf tidak mempunyai cukup keberanian untuk berbicara dengan Farah. Tetapi paling tidak sudah ada langkah awal ujarnya dalam hati. Bukankah sebuah perjalanan jauh pun diawali dengan satu langkah kecil.


***


Hari terus berlalu tanpa Jusuf sadari. Ia kini tiba dititik dimana ia tidak lagi mampu menahan rasa penasarannya. Jusuf ingin sekali bertemu dengan Farah. Dua belas tahun merupakan waktu yang cukup untuk menggambarkan bagaimana penasarannya Jusuf terhadap sosok Farah.


Sebuah hari di pertengahan Agustus, ia mendapat kabar bahwa salah satu sahabat baiknya akan segera menikah di Palembang. Yang membuatnya bahagia bukan hanya karena sahabat baiknya itu akan menikah. Tetapi juga karena ia akan dapat bertemu dengan Farah sembari menghadiri pernikahan sahabatnya tersebut.


“Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertemu dengan Farah”, Jusuf berbicara kepada dirinya sendiri kala itu, “Ya,Allah…terima kasih telah mempertemukanku dengannya. Bagaimanapun keadaanya kelak, aku akan mensyukurinya. Terima kasih karena telah mendengarkan doaku selama 12 Tahun ini, Terima kasih ya Allah.”


Hari itu, seribu asa tertanam di benak Jusuf, satu ungkapan yang terus ia kumandangkan hari itu, “terima kasih, ya Allah!”



====================================================================



(Bersambung ke Farah Tale Chapter III)